RPP Matematika SMK Kurikulum 2013


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau disingkat RPP sudah selayaknya dan harus dibuat oleh guru di awal semester.  Saya termasuk guru yang agak malas membuat RPP, mungkin juga dialami oleh teman-teman guru yang lain. Apalagi kalau mengajar terkadang banyak spontanitas yang disesuaikan dengan kondisi di kelas. Tetapi alangkah baiknya jika sebelum mengajar membuat RPP. Meskipun terkadang akan berbeda saat mengajar, namun setidaknya seorang guru mempunyai pegangan untuk mengajar.

Saya pun mencoba untuk membuat RPP sendiri dan tidak sekedar copy paste. Meskipun ada beberapa contoh-contoh RPP yang sudah saya copy, tetapi rumus ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) masih saya lakukan. Kalau murni dari pikiran sendiri rasanya akan sangat lama. Membuat 1 RPP untuk 1 pertemuan ternyata sangat menguras energi dan pemikiran. Hal ini saya alami ketika mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) di Universitas Negeri Semarang (UNNES) bulan November 2017. 

Pada saat PLPG terdapat kegiatan Workshop untuk membuat RPP Kurikulum 2013 yang terbaru. Sempat terbayang kesulitan di awal sebelum membuatnya. Karena belum pernah menyusun sendiri RPP secara utuh. Alhasil setelah melihat-lihat RPP teman-teman hasil copy an ternyata bisa membuat RPP sendiri. Ternyata memang lama. Itu pun hanya satu kali pertemuan. 

Ternyata menjadi guru memang tidak mudah. Administrasi-administrasi yang mengikuti profesi guru semakin hari semakin banyak saja. Atau mungkin saya yang malas. Ah, sudahlah yang penting sudah bisa membuat RPP sendiri. Lampiran-lampiran di RPP ternyata banyak sekali. Antara satu instruktur dengan instruktur yang lain terkadang memang berbeda pandangan mengenai RPP. Hal yang perlu diperhatikan adalah mengacu pada format RPP dari pemerintah. Masalah isi mungkin berbeda antara satu dengan yang lain. 

Ternyata membuat RPP memerlukan waktu dan pemikiran yang ekstra jika ingin hasil yang bagus. Bukan sekedar asal-asalan buat yang penting jadi. Perlu keseriusan dalam membuat RPP. Karena dasar modal guru mengajar ya RPP. Intinya adalah membuat RPP daripada tidak membuat. Semoga saya pun bisa menyusun RPP yang lebih bagus dan tidak hanya sekedar copy paste. 
 
Hasil dari PLPG, saya pun bisa menyusun RPP sendiri, hehe. Berikut RPP Matematika SMK Kurikulum 2013 Revisi 2017. Memang tidak bagus, tapi yang jelas hasil buatan sendiri.


Selain RPP tersebut, masih ada lampirannya yang berupa LK, Bahan Ajar, Penilaian, dan Media.

Semangat Mengajar Lupa Mendidik

Sebagai seorang guru yang baru mulai mengajar di tahun 2009, tampaknya pengalaman mengajar saya masih sedikit. Perlu jam terbang yang lebih banyak lagi. Namun saya rasa, mengajar itu asyik. Apalagi saat tahun pertama menjadi guru, mengajar sangat menyenangkan. Selalu menggebu-gebu dan berapi-api untuk menerangkan suatu materi. Mencoba untuk mengeksplorasi metode-metode mengajar yang diketahui. Mencari cara agar siswa memahami materi dan memperoleh nilai yang bagus.  

Sebelum mengajar selalu mempelajari materi yang akan diajarkan. Beli buku tentang mata pelajaran matematika ke sana kemari. Di awal-awal tahun saya mengajar, saya membeli buku kelas X, XI, dan XII dari 3 penerbit yang berbeda. Download Buku Sekolah Elektronik (BSE) waktu itu dari situs kementerian pendidikan. Cari sumber-sumber di internet, dan berkunjung dari satu blog ke blog lain, dari website satu ke website lain hanya untuk mencari modul, bahan ajar, atau materi lalu mendownloadnya. Tak jarang sering ke warnet hanya untuk download materi pelajaran. 

Sumber Gambar : www.pixabay.com
 
Saya berpikir dengan mempunyai banyak bahan atau materi pelajaran, maka mengajar di depan kelas akan variatif dan tidak monoton. Selain itu saya pun sering berkunjung ke perpustakaan untuk pinjam buku tentang motivasi dan pengembangan diri. Berkunjung ke perpustakaan, hal yang sudah semakin saya tinggalkan. Mungkin karena kesibukan, atau karena kemalasan, hehe. 

Dulu, dalam mengajar saya selalu ingin agar siswa memahami dan menguasai matematika. Berbagai macam cara saya tempuh ketika siswa mendapatkan nilai jelek. Remidiasi dan tugas-tugas rutin saya berikan. Membuat soal ulangan dengan kategori mudah juga saya berikan. Bahkan les gratis di rumah pun saya berikan, karena masih bujang, jadi belum punya tanggungan kalau kata orang-orang.  Ada beberapa siswa yang memang mengalami kenaikan prestasi belajar, tetapi ada juga yang nilai ulangan atau ujiannya tetap parah. Tetapi sekarang karena sudah berkeluarga, belum mau untuk ngelesi lagi.

Ujian nasional yang merupakan puncak dari studi siswa di SMK, idealnya memang harus memperoleh nilai yang tinggi. Orientasi saya waktu itu memang mengajar dan mengajar agar membuat siswa memiliki nilai yang tinggi. Saya pun tersadarkan, ketika memberikan les gratis kepada siswa saat mau Ujian Nasional. Dalam seminggu, bisa dua sampai tiga kali selalu datang ke rumah. Rumus-rumus cepat, dan cara menyelesaikan soal matematika saya berikan dengan urut. Akan tetapi, ada siswa yang nilai Ujian Nasionalnya dibawah 30. Saya pun seolah-olah tidak percaya, tetapi memang begitu adanya. Padahal sudah rutin memberikan les tambahan, dan tidak saya pungut biaya, tetapi nilainya sangat berantakan.

Saya pun mulai berpikir, ngobrol sana-sini, njagong dengan teman-teman guru, baca buku-buku tentang pendidikan, kesimpulannya memang aspek kognitif siswa tidak sama. Tingkat kecerdasan siswa berbeda-beda. Tidak semua siswa suka, mau, dan mampu belajar matematika dengan baik. Tidak semua siswa akan mencapai nilai ulangan atau ujian matematika 90. Apalagi di SMK, dengan karakter siswa yang tidak terlalu suka membaca dan belajar pelajaran teori. 

Sebagai guru memang harus mau berpikir dan merenung sejenak apa yang sudah dikerjakannya. Hal itu, pun saya lakukan. Ternyata ada hal yang saya lupakan ketika berprofesi menjadi guru, yaitu mendidik. Guru tidak hanya mengajar saja. Guru harus juga mendidik siswanya agar menjadi manusia yang berkarakter baik. Hasil-hasil nilai ulangan atau ujian siswa yang sudah diremidi berkali-kali masih tetap di bawah 50, tidak boleh membuat guru menjadi patah semangat dalam menjalani profesinya. Masih ada hal lain yang sangat penting yaitu bagaimana cara mendidik siswa agar nantinya setelah lulus sekolah memiliki kesopanan dan nilai-nilai kebaikan. Mendidik siswa bukanlah sulap yang dengan bimsalabim lalu sikap dan kepribadian seluruh siswa menjadi baik. Perlu perjuangan dan inovasi-inovasi dalam memberikan arahan dan keteladanan. 

Saya dulu sangat semangat dalam mengajar tapi lupa mendidik. Sekarang perlahan-lahan mulai untuk belajar bagaimana mendidik siswa dan membiasakan siswa agar disiplin. Kedisiplinan yang sederhana dan simple mulai dari cara mereka mengumpulkan tugas. Selalu saya beri waktu, hari dan tanggalnya. Kalau misalkan terlambat mengumpulkan berarti tidak saya nilai. Saya pun memberitahukan siswa terlebih dahulu. Hal ini saya lakukan agar siswa setelah lulus menjadi orang yang selalu disiplin waktu dan tidak menyepelekan waktu-waktu yang sudah ditentukan. Saya mencontohkannya pada satu hal saat siswa melamar pekerjaan. Jika di informasi lamaran kerja sudah tertulis tanggalnya, tapi kita mengirimkan atau mengumpulkannya terlambat, pasti tidak akan diterima. Kalaupun diterima tidak akan diikutkan seleksi. Kecuali jika pemilik perusahaan saudaranya sendiri, atau punya koneksi.

Kebersihan juga saya terapkan kepada siswa. Saat masuk kelas, saya berusaha untuk mengingatkan jika belum disapu atau ada bungkus plastik di ruang kelas. Jika belum disapu, maka saya selalu menyuruh siswa atau yang piket untuk menyapu. Saya selalu berusaha untuk mengingat akan kebersihan ruang kelas, meskipun terkadang lupa. Hal ini pula saya contohkan dan beri pengertian ke siswa, kalau tempat kerja bersih, maka bekerja akan nyaman dan pengunjung senang. Saya ceritakan ke siswa bahwa, di suatu bank itu pasti selalu dibersihkan oleh cleaning service. Kalau kita masuk pasti merasa nyaman, dan senang. Sudah ruangannya dingin, bersih pula. Pasti kita akan betah jika harus antri. Apalagi jika ditambah dengan pegawainya yang ramah dan murah senyum. 

Pendengar yang baik. Saya selalu berusaha untuk mengingatkan siswa agar menjadi pendengar yang baik. Saat guru menerangkan suatu materi, saya selalu mengingatkan agar mendengarkannya terlebih dahulu. Tidak berbicara dengan temannya. Hal ini saya lakukan karena, kebanyakan dari kita selalu berbicara saat menghadiri pertemuan-pertemuan yang ada pembicara di depan. Saya sendiri pun kadang melakukannya, tetapi berusaha untuk tidak sering melakukanya. Saya pun memberikan pemahaman ke siswa agar menjadi pendengar yang baik. Bahwa mendengarkan orang yang berbicara itu termasuk menghargai dan menghormati. Kalau saat kita berada di depan suatu forum lalu berbicara dan tidak ada yang mendengarkan, tentu yang kita rasakan tidak enak dan sia-sia. 

Tiga hal di atas yang selalu saya tekankan agar siswa menjadi terbiasa dan nantinya akan menjadikan mereka memiliki karakter yang baik. Kedisplinan waktu, kebersihan, dan belajar menjadi pendengar yang baik. Ketiga hal tersebut saya tekankan di tahun 2017 ini. Kenapa hanya tiga hal saja? Kenapa kok tidak sepuluh atau duapuluh? Karena saya ingin belajar mendidik siswa dimulai dari hal yang kecil dan sedikit terlebih dahulu, baru kemudian ditambahkan hal-hal lain lagi yang nantinya akan membuat karakter siswa baik. Menjadi guru tidaklah mudah. Perlu belajar dari waktu ke waktu. Hasilnya tidak bisa kita lihat sehari dua hari, tetapi 5 sampai 10 tahun yang akan datang. Atau malah kita tidak memiliki andil terhadap keberhasilan siswa kita. Hanya siswa sendirilah yang tahu bagaimana hasil pengajaran dan pendidikan yang dilakukan gurunya semasa di sekolah. 

Guru itu Motivator yang Handal



Ah, sudah lama sekali tidak update tulisan di blog. Padahal niat awal membuat blog adalah untuk mengespresikan kebiasaan menulisku. Padahal inginnya selalu membuat tulisan tentang dunia guru, sekolah, pendidikan, atau hal-hal lain setiap satu minggu sekali. Tetapi, memang rutinitas pekerjaan setiap hari dan juga waktu yang harus kucurahkan untuk keluarga tidak terelakkan. Sekarang, harus pandai dalam membagi waktu. 

Kali ini aku ingin menulis tentang guru yang ternyata merupakan seorang motivator handal. Tiba-tiba ingin menulis ini, karena profesi harianku sebagai guru, secara tidak langsung akan selalu memberikan semangat kepada para siswa. Seorang guru pasti akan mengingatkan siswa untuk selalu belajar, berpakaian yang rapi, berperilaku sopan, disiplin, jujur, menjaga kebersihan, dan berbagai hal positif lainnya. Tidak mungkin seorang guru mengajak atau menyuruh siswanya untuk berbuat tidak baik, jahat, atau kriminal. Pasti seorang guru akan selalu mengajak siswanya untuk berbuat kebaikan.

Meskipun terkadang guru itu sendiri, termasuk aku sendiri, kehilangan semangat mengajar dan mendidik, lemah, letih, atau lesu saat bekerja, pasti hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Guru secara otomatis akan kembali bersemangat untuk bekerja dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada para siswa. Aku sendiri juga kadang bosan atau jenuh dalam mengajar. Menurutku juga lumrah, karena manusia tidak mungkin setiap waktu selalu bersemangat terus. Pasti adakalanya kurang atau kehilangan semangat.

Guru yang selalu tampil di depan kelas pasti mempunyai resep tersendiri untuk mengusir kehilangan semangat dan kurangnya gairah dalam hidup. Secara tidak langsung guru akan memberi motivasi kepada diri sendiri, bahwa pekerjaan atau profesinya berhubungan dengan banyak siswa yang harus diajar dan dididik menjadi manusia tangguh dan berkarakter. Banyak cara untuk membuat suasana kelas menjadi bersemangat. Setiap guru pasti mempunyai cara sendiri-sendiri.

Cara untuk mengusir kurangnya semangat pada diri saat mengajar salah satunya ya memberi semangat kepada siswa. Motivasi yang kita berikan kepada siswa akan berdampak secara tidak langsung juga kepada kita sebagai guru. Sekali lagi, semua guru pasti akan memberikan motivasi positif kepada seluruh siswanya. Terkadang secara langsung lewat arahan atau bimbingan saat di depan kelas, ataupun secara tidak langsung melalui contoh-contoh yang bisa dilihat oleh siswa.

Apalagi jika mendekati pelaksanaan ulangan harian, ulangan semester, atau bahkan ujian nasional, guru pastilah akan lebih intensif memberikan motivasi kepada siswanya. Ternyata tanpa disadari, aku pun memberi motivasi kepada siswa untuk belajar. Benar adanya, memang motivasi kepada siswa itu perlu dan mutlak dilakukakan oleh semua guru. Karena tanpa adanya motivasi, seorang siswa pasti tidak akan pernah sungguh-sungguh dalam belajar.

Dengan motivasi yang selalu diberikan kepada siswa saja, terkadang ada siswa yang malas belajar, apalagi jika siswa tidak mendapat suntikan motivasi dalam hidupnya. Siswa yang memiliki motivasi tinggi saat belajar di sekolah, setelah lulus juga mendapatkan pekerjaan yang menurutku layak dan bagus. Hal ini juga aku amati dari para alumni di sekolahku yang sekarang bekerja di tempat yang layak dan mendapat gaji yang besar pula. Sekolah tanpa kita sadari merupakan tempat untuk siswa membiasakan diri melakukan hal-hal baik dalam hidupnya. Meskipun bukan tempat yang utama, tetapi setidaknya sekolah akan memberikan andil yang besar dalam diri seseorang selain rumah dan lingkungan. 

Guru yang baik pastilah akan mencari cara untuk memberi motivasi kepada siswanya. Untuk memberi motivasi kepada siswa tidaklah hanya dengan ucapan-ucapan manis. Perlu adanya teladan baik yang bisa dilihat oleh siswa. Aku sendiri masih terus belajar untuk memberikan motivasi dalam bentuk ucapan, arahan, dan juga teladan kepada siswa agar selalu berusaha untuk berbuat baik dan selalu belajar. Meskipun aku sendiri terkadang juga malas untuk belajar dan kehilangan motivasi, tapi siswa harus selalu aku pompa semangatnya agar menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter. 

Semua guru memang seorang motivator yang handal. Dimanapun berada, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Berhasil tidaknya seorang siswa di sekolah merupakan tanggung jawab seorang guru. Meskipun ada beberapa pihak yang sering menyulitkan  dan menyudutkan profesi guru, tetapi menurutku guru tetap merupakan seorang motivator yang handal dan hebat bagi semua siswanya. Motivasi dan semangat guru-guruku waktu SD, SMP, SMA, perguruan tinggi secara tidak langsung membawaku untuk selalu ingat agar menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Karena tidak mungkin kita bercita-cita menjadi orang yang jahat dan kriminal bukan? 

Jasa para guru-guru kita terdahulu memang sangat besar untuk membentuk kebiasaan dan karakter kita. Jika profesiku sekarang ini adalah seorang guru, sudah sepantasnyalah meneruskan guru-guru terdahulu untuk selalu memberikan motivasi positif kepada para siswa. Di tengah-tengah perkembangan pesat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak terbendung, semangat dari para guru harus selalu ada. Bukan hanya untuk sementara, tapi selama guru itu berprofesi dan berkarya. Semoga aku selalu bisa memberikan motivasi positif yang menghidupkan siswa agar menjadi pribadi yang baik, berkarakter dan sungguh-sungguh dalam belajar.      

Catatan Seorang Guru

Taufik Fadholi

Sumber Gambar : https://daerah.sindonews.com/read/1001953/151/

Guru itu Penyabar


Guru itu digugu lan ditiru. Istilah yang kerap digunakan oleh sebagian besar masyarakat untuk mendeskripsikan arti seorang guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), guru diartikan orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Namun menurut saya, guru pekerjaannya tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Saya sendiri terkadang hanya mengajar dan lupa mendidik. 

Profesi guru dewasa ini semakin banyak digrandungi oleh para lulusan SMA/SMK. Entah karena menjadi guru terinspirasi oleh para guru terdahulu yang pernah mengajar dan mendidiknya atau menjadi guru karena sudah tidak diterima di jurusan non kependidikan atau keguruan. Dua hal di atas hanyalah sebagian alasan orang menjadi guru. Tentunya masih banyak alasan yang lain, kenapa orang menjadi guru. 

Saya sendiri kuliah di jurusan kependidikan atau keguruan karena tidak diterima di jurusan non keguruan. Awalnya memang terasa berat saat mengikuti perkuliahan. Tapi, lambat laun juga semakin enjoy dan semakin tahu bahwa selesai kuliah muaranya adalah menjadi seorang guru. Faktor keberuntungan juga akhirnya setelah lulus menjadi guru di SMK Negeri 1 Jepara. Ternyata jadi guru memang menyenangkan dan memberikan banyak pengalaman. Setelah dinikmati, menjadi guru ternyata tidak sesusah atau seberat yang dibayangkan saat kuliah dulu. Hal yang terpenting kita mau untuk selalu belajar. 

Salah satu nilai yang saya dapatkan dalam menjalani profesi sebagai guru adalah kesabaran. Guru itu penyabar. Sebelum menjadi guru, mungkin saya termasuk orang yang tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu, dan terkadang mudah emosi ketika tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Akan tetapi setelah menjadi guru, lambat laun saya dapat mengontrol emosi. Secara tidak langsung menjadi guru telah membuat saya agak sabar. Meskipun terkadang kurang sabar dalam beberapa hal, namun tidak seperti saat sebelum menjadi guru atau awal-awal menjadi guru. Sekarang pun terkadang muncul rasa tidak sabaran, tapi setidaknya bisa saya kuasai dengan baik. Minimal tidak menjadikan emosi negatif. 

Setiap hari bertemu dengan beberapa siswa dengan karakter dan sifat yang pasti berbeda-beda membuat guru harus mampu menguasai diri. Contoh sederhananya, ketika akan mengajarkan salah satu materi yang agak sulit pasti tidak semua siswa bisa. Dalam satu kelas pasti ada siswa yang kurang paham atau tidak paham sama sekali dengan materi yang kita ajarkan. Guru haruslah sabar untuk mengajarkannya dan jika diperlukan mengulangi untuk menerangkan dan menjelaskan kembali. Jika sudah berulang kali dijelaskan tetap ada siswa yang tidak paham, kembali kesabaran seorang guru diperlukan. Guru harus berpikir sederhana, jika materi yang satu ini sulit, mungkin materi yang lain siswa bisa. Namun jika ada siswa yang memang benar-benar tidak bisa menguasai salah satu mata pelajaran, guru juga harus sabar, dan tidak perlu marah-marah. Jika ada siswa yang tidak bisa salah satu mata pelajaran, mungkin dia bisa dan menguasai mata pelajaran lainnya.  


Selain tentang penguasaan materi siswa, hal yang harus membuat guru betul-betul sabar adalah tingkah laku siswa di dalam dan luar kelas. Terkadang ada saja siswa yang hobi bicara di dalam kelas. Saat guru menerangkan materi, siswa masih saja bicara sendiri dengan temannya. Saat ditegur, diam. Tapi setelah 15 menit kembali bicara lagi. Mungkin memang sudah kebiasaannya bicara sendiri ketika guru menjelaskan atau menerangkan materi. Ditegur lagi, kembali bicara sendiri lagi. Hal ini jelas membuat guru harus menahan amarahnya dan kembali harus bersabar. Guru harus mencari cara agar kondisi kelas benar-benar tenang saat mau menerangkan materi. Hal ini mungkin mudah bagi sebagian guru. Tapi bagi saya yang mengajar di SMK, harus ekstra kerja keras untuk menenangkan siswa terlebih dahulu sebelum masuk ke materi pelajaran.

Siswa SMK, apalagi yang mayoritas laki-laki semua dalam satu kelas, tentu berbeda dengan kelas heterogen yang ada siswa perempuannya. Jika siswa laki-laki semua, guru harus benar-benar memiliki tips-tips khusus agar kondisi kelas tenang. Untuk menenangkan kondisi kelas yang ramai tidaklah hanya dengan bimsalabim jadi tenang hanya dalam waktu 1 menit. Caranya pun berbeda-beda antara kelas satu dengan yang lain. Guru memegang kendali besar jika kondisi kelas ramai. Ketika saya mengajar kelas dengan seluruh siswanya laki-laki, pasti saya harus banyak bicara dulu di luar materi untuk mengkondisikan. Meskipun kadang berhasil kadang tidak, kadang tambah ramai, kadang tenang sendiri. 

Guru haruslah bersikap sabar ketika menghadapi kelas yang ramai dan sulit dikendalikan. Jika ramainya karena diskusi tentang pelajaran, pasti guru akan sangat senang, tetapi jika ramainya karena ngomong dan diskusi hal-hal di luar pelajaran pasti akan membuat guru geregetan sendiri. Sekali lagi, sikap sabar seorang guru pasti akan tumbuh ketika menghadapi siswa yang sulit dikendalikan.

Belum lagi jika siswa menanyakan hal-hal yang tidak penting dan tidak menyangkut pelajaran, rasanya ingin memarahinya. Tetapi tidak mungkin juga seorang guru sering marah-marah, karena akan menjadikan siswa malah menyepelekan jika seorang guru terlalu sering marah-marah. Bolehlah, seorang guru marah, tetapi harus ada batasnya dan tidak terlalu sering. Siswa sekarang, jika dimarahi atau dikerasi secara terus menerus malah akan membuat mereka menjadi pembangkang dan melakukan tindakan ngawur. 

Jadi guru memang tidak mudah dan tidak sulit. Tergantung bagimana kita memandang dan melaksanakan profesi ini sebaik-baiknya dan semampu kita. Tidak ada guru yang lebih pintar atau lebih baik, menurut saya semua guru itu sama. Semuanya pintar dan semuanya baik. Sikap sabar seorang guru harus selalu dipupuk dan dikembangkan setiap saat. Dikala sedang tidak sabar, harus ingat kembali, bahwa hidup harus sabar yang penting tujuan tetap tercapai. Guru pastilah akan selalu dihormati dan dihargai oleh para siswanya. Karena dengan kesabaran, seorang guru mampu menjadikan siswa paham akan suatu pelajaran dan terdidik untuk selalu melakukan kebaikan. 

Catatan Seorang Guru
Taufik Fadholi

Membuat Perpustakaan Keluarga


Buku merupakan jendela dunia. Kalimat tersebut mungkin pernah kita dengar. Kita bisa mendapatkan ilmu, informasi, pengetahuan dan wawasan dari buku. Di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, buku masih memegang peranan penting bagi sumber ilmu pengetahuan. Meskipun sekarang ini orang dengan mudah mendapatkan informasi dari internet, namun menurut saya, buku masih akan terus menjadi referensi bagi seseorang untuk mendapatkan pengetahuan. Saya sendiri selalu berusaha meluangkan waktu untuk membaca buku. Dulu, saat masih bujang, saya selalu memiliki target untuk menyelesaikan membaca 2 buku dalam 1 bulan. Akan tetapi, setelah berkeluarga dan memiliki anak, harus pandai-pandai dalam memanfaatkan waktu untuk membaca buku. Sekarang ini, minimal dalam satu minggu saya harus membaca buku, setidaknya dalam 1 bulan menyelesaikan 1 buku. Kalaupun meleset, 1 buku selesai dalam 2 bulan. Intinya tetap ada kegiatan membaca buku dalam 1 bulan. 

Membaca buku memiliki keasyikan tersendiri. Pikiran dan perasaan kita seperti berimajinasi dan berkreasi ketika membaca buku. Setiap orang pasti memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam membaca buku. Antara satu orang dengan yang lain terkadang memiliki persepsi yang berbeda dari 1 judul buku yang sama, dan ini sah sah saja menurut saya. Hal, yang terpenting justru konsistensi kita dalam membaca buku. Meskipun susah untuk mengajak semua orang gemar membaca, minimal kita memberikan contoh nyata dan pengalaman. Saya sendiri pun memiliki cita-cita dari dulu untuk membuat perpustakaan keluarga.

Perpustakaan bagi saya adalah tempat dimana saya bisa bebas membaca dan berimajinasi. Meskipun saya bukan pengunjung perpustakaan umum aktif, namun setidaknya dulu saya pernah mengunjungi. Saat masih menjadi mahasiswa saya terkadang berkunjung ke perpustakaan daerah Jawa Tengah di Semarang, di samping Gedung Wanita daerah Sriwijaya. Meskipun hanya baca-baca koran, dan cari referensi untuk skripsi, setidaknya perpustakaan tersebut sangat nyaman. Ketika di rumah, saya pun dulu sering mengunjungi perpustakaan umum Kabupaten Jepara, letaknya sebelah hotel Jepara Indah. Tetapi sekarang ini sudah tidak pernah, karena kesibukan bekerja. Terakhir kali meminjam buku di sana Tahun 2011. Sudah lama sekali ternyata, hehe.

Bisa dibilang saya bukanlah pengunjung aktif perpustakaan umum. Daftar buku yang saya pinjam dari perpustakaan umum pun sedikit. Hal yang mendasari saya kurang aktif berkunjung ke perpustakaan umum mungkin karena keinginan saya untuk membuat perpustakaan keluarga sendiri. Masih ingat, saat pertama kali membeli buku non pelajaran/kuliah di tahun 2006 dulu. Buku dengan judul Mengatasi Rasa Sepi, Frustasi, Rendah Diri karangan Dr. Frank S. Caprio. Buku terjemahan yang saya beli dari Toko Buku Gramedia saat masih kuliah dulu. Bukunya tipis dan harganya murah waktu itu, maklum kantong mahasiswa. Dari situlah, saya mulai membeli buku apa saja.
 
Setelah membeli buku pertama non pelajaran itu, saya pun mulai suka dan hobi untuk membeli buku. Saat masih kuliah, saya pun menyisihkan uang saku untuk membeli buku-buku pengetahuan, novel, atau buku apapun. Bahkan buku bajakan pun saya beli saat itu, karena harganya murah dan tidak tahu kalau itu buku bajakan. Akhirnya seiring pengalaman membeli buku, akhirnya tahu mana yang buku bajakan dan buku asli. Ternyata semakin tahu juga kalau membeli buku bajakan, royalti dari buku tidak diterima oleh penulis bukunya. Hal inilah yang membuat saya merasa bersalah. Setelah paham dan mengerti, saya pun memutuskan untuk selalu membeli buku-buku asli. 

Buku-buku yang saya beli pun semakin bertambah setelah bekerja menjadi guru di SMK Negeri 1 Jepara. Hampir setiap bulan saya selalu menyisihkan gaji untuk membeli buku. Kalaupun lupa membeli, maka bulan berikutnya saya akan membeli dua buku atau bahkan terkadang sampai membeli 3 buku jika sedang khilaf. Saya berpikir sederhana, apakah gaji hanya saya habiskan untuk kebutuhan pokok kita saja? Maka, setidaknya dengan membeli buku saya bisa memberikan bahan bacaan untuk anak-anak saya kelak. Buku-buku yang saya beli memang untuk saya koleksi dan sebagai pengisi perpustakaan keluarga. 

Karena bukan seorang pustakawan, atau pernah kuliah di jurusan perpustakaan, saya pun alakadarnya dalam membuat perpustakaan keluarga. Hanya menggunakan pengetahuan sederhana dan juga apa yang pernah saya lihat di perpustakaan umum. Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk membuat perpustakaan keluarga. 

1.    Memberikan Nama
Saat memikirkan nama untuk perpustakaan, sebenarnya saya bingung. Mencari dan mengotak-atik sebuah nama untuk perpustakaan ternyata tidak mudah. Saya pun kala itu mencari nama yang aneh dan kemungkinan tidak ada yang sama. Terciptalah nama perpustakaan keluarga DHOL PUSTAKA. Saya ambil dari penggalan nama saya sendiri. Mungkin terlihat janggal atau aneh bagi orang, tapi menurut saya orisinil. Hehe. Nama tersebut sudah saya ciptakan kira-kira tahun 2009 ketika saya mulai bekerja. 

2.    Membuat Stempel
Karena takut jika ada orang mempunyai buku yang sama, saya pun dulu selalu membubuhkan tanda tangan dan tanggal pembelian. Tetapi setelah bertahun-tahun, tampaknya harus ada hal yang berbeda. Setelah saya menciptakan nama untuk perpustakaan keluarga, saya pun kepikiran untuk membuat stempel. Desain sederhana dengan Ms. Word pun saya buat kala itu. Meskipun sederhana, tapi saya tidak mempunyai pikiran untuk merubahnya. Tampilan stempelnya pun seperti ini :



3.    Memberikan nomor
Saat mulai membeli buku dan mengkoleksinya, dulu asal-asalan saja menyimpannya. Urutan pembelian pun saya tidak ingat. Meletakkannya dulu pun sembarangan. Bahkan ada yang mau ikut terjual ketika ada pedagang barang bekas atau loak ke rumah. Saya pun mulai memberikan nomor untuk buku-buku yang saya beli dan koleksi. Karena bukan pustakawan yang tahu kode-kode atau ilmu penomoran buku, saya pun mengurutkan saja nomor dari angka 001 dan seterusnya.



4.    Mencatat di buku inventaris dan komputer
Ternyata mencatat buku koleksi kita sangat penting. Selain agar kita memiliki data buku kepemilikan pribadi, catatan buku juga dapat membuat semangat untuk terus menambah koleksi buku. Jika masih sedikit maka akan ada keinginan untuk menambahnya agar bertambah banyak. Jika melihat data ada buku bagus yang belum kita punya, maka kita akan berusaha untuk membelinya. Saya pun mencatat daftar buku saya di buku inventaris yang saya buat dari kertas-kertas bekas lalu saya tempatkan di snelhechter. Selain itu saya juga mencatatnya di komputer. Agar memiliki dua tempat penyimpanan data.



5.    Membuat rak buku
Karena jumlah buku yang tentunya ingin selalu bertambah, saya pun harus memikirkan untuk membuat tempatnya. Rak buku pun saya buat dengan sederhana. Karena saya tidak ahli dalam ilmu pertukangan, saya pun memasrahkan kepada orang lain untuk membuatnya. Hanya membuat sketsa sederhananya saja, saya lalu memberikan kepada orang lain untuk membuatnya. Awalnya dengan menggunakan kayu bekas. Setelah itu, rak buku yang kedua pun saya membeli kayu sendiri dan meminta teman untuk membuatnya. Desain rak nya pun sangat sederhana, simpel, dan mudah membuatnya. Nantinya saya masih punya rencana untuk membuat rak buku yang lebih bagus dan unik.


6.    Membeli buku baru
Memiliki hobi membaca buku dan mengkoleksinya pastilah harus selalu membeli buku baru. Kalau tidak pernah membeli buku, pasti perpustakaan keluarga tidak akan pernah terisi. Saya pun harus memiliki keinginan kuat untuk hal ini. Setiap bulan saya pun menyisihkan sedikit uang dari gaji saya untuk membeli buku baru. Alhamdulillah, istri pun sangat mendukung hobi saya yang satu ini. Saya pun menjadi semakin bersemangat, dan setiap bulan selalu berusaha untuk menyisihkan uang untuk membeli buku baru.

7.    Merawat
Hal yang sering dilupakan orang ketika memiliki perpustakaan keluarga adalah merawat buku-bukunya. Saya sendiri juga terkadang lupa dan membiarkan buku-buku koleksi saya begitu saja. Nampaknya membiarkan buku yang kita koleksi tidak boleh berlama-lama. Kita harus membersihkannya dari debu, dan menempatkannya di tempat yang tidak lembab. Karena kalau buku yang kita koleksi bersih, maka kita akan selalu bersemangat untuk membacanya.

Beberapa hal di atas saya lakukan untuk membuat perpustakaan keluarga. Meskipun sangat sederhana dan mudah dilakukan, namun jika kita tidak memiliki keinginan kuat untuk membuat perpustakaan sendiri, maka tidak akan pernah terwujud. Perpustakaan keluarga yang saya buat memiliki tujuan untuk menambah pengetahuan dan sebagai bentuk refleksi dari hobi membaca buku yang diwariskan oleh orang tua. Slogan dari perpustakaan keluarga saya DHOL PUSTAKA adalah “membaca membuat hidup lebih berarti”. Saya memang mendapatkan banyak manfaat dari membaca dan memang membuat hidup memiliki arti. Karena dengan membaca, pikiran dapat berimajinasi sehingga hidup lebih memiliki warna tersendiri.

Saya membuat perpustakaan keluarga juga agar dapat mewariskan kepada anak cucu kelak buku-buku yang dapat memberikan mereka ilmu, pengetahuan dan informasi. Semoga bermanfaat bagi anak cucu saya kelak agar memiliki budaya membaca. Budaya yang harus dilestarikan bagi seluruh anak-anak bangsa di negara Indonesia yang kita cintai ini. Membaca tidak hanya dilakukan di sekolah saja, namun saat selesai sekolah kita harus terus membaca. Buku tidak hanya kita beli saat sekolah saja, namun harus kita beli saat sudah bekerja dan memiliki gaji. Membaca buku adalah suatu kegiatan yang menyenangkan dan harus kita lestarikan.

Sekolah itu Surga


Judul : Sekolah itu Surga
Penulis : HJ. Sriyanto
Penerbit : Selingkar Rumah Idea Pustaka
Tahun : 2012
Jumlah Halaman : 162


Cerita tentang Buku :
Buku ini terdiri dari 4 Bagian yaitu :
Bag. 1 : Siapa bilang jadi guru itu Gampang?!
Bag. 2 : Pendidikan itu Menyalakan Api dan Mengobarkannya
Bag. 3 : Sekolah Itu Surga
Bag. 4 : Mengarungi Arus Globalisasi
Masing-masing bagian terdiri dari kumpulan tulisan  hasil dari buah pemikiran penulis. Buku yang merupakan kumpulan tulisan dari HJ. Sriyanto ini benar-benar berasal dari pengalaman dan kisah nyata beliau sebagai guru yang mengajar matematika. Disajikan dengan bahasa yang ringan namun sarat makna. Memaknai peran dan profesi seorang guru memang harus total. Diawal-awal bab, tepatnya di dalam tulisan Dongkrak Citra Profesi, penulis menunjukkan bahwa input yang dimiliki tenaga kependidikan relatif rendah tingkat intelektualnya dibandingkan input non kependidikan. Anak yang prestasi akademiknya baik, hampir tidak ada yang mau menjadi guru. Akibatnya output yang dihasilkan juga rendah kualitasnya. 
Selain itu, penulis juga menyatakan bahwa bagaimanapun persoalan ekonomi yang dihadapi guru amat mempengaruhi kinerja dan profesionalitas guru. Saya pun sependapat dengan hal ini, karena biar bagaimanapun, seseorang bekerja pastilah ingin mendapatkan gaji yang dapat mencukupi kebutuhan. Menurut penulis, setiap profesi menuntut adanya suatu standar kompetensi, standar moral, dan tanggung jawab tertentu yang harus dijaga demi citra dan kredibilitas profesi itu. Oleh karena itu, para guru dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas dan kompetensinya dan terus menerus memperbarui diri, meng-upgrade dirinya sesuai dengan tuntutan zaman sebagai bentuk pertanggungjawaban profesi. 
Orang sering kali lupa bahwa guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Walaupun bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, guru tetaplah merupakan titik sentral proses pendidikan. Guru selalu berdiri di garda terdepan dalam proses pendidikan. Guru jugalah yang akan selalu membangkitkan siswa dikala kurang semangat belajarnya. Penulis juga menyatakan bahwa ketika api semangat itu sudah menyala, percayalah yang lain hanyalah konsekuensi logis yang hanya soal menunggu waktu saja untuk segera mewujud. Dan tugas pendidik adalah menjaga api itu tetap menyala dan terus mengobarkannya. 
Tulisan dengan judul Monolog Seorang Guru di dalam buku ini pun terasa seperti yang saya alami. Ketika masih muda dan bujang menjadi guru, sangat bersemangat sekali dalam bekerja. Seperti tidak kenal lelah. Pulang sore bahkan larut pun dijalani. Kerja ekstra diluar jam kerja pun dijalani tanpa mengeluh. Akan tetapi setelah memiliki keluarga, semangat itu kian mengendur dan berkurang. Persis seperti yang saya rasakan. Hehehe. Mungkin saya saja yang merasakan atau banyak guru, saya pun tidak tahu. Namun yang jelas, di akhir tulisan, penulis memberikan suatu pesan positif bahwa dengan spirit yang menyala-nyala di dadanya, guru itu akan selalu menjadi manusia pembelajar yang selalu meng-upgrade diri untuk kemudian dibagi-bagi lagi dengan manusia-manusia muda yang akan selalu ada bersamanya. Hal inilah, yang membuat saya memang harus selalu bersemangat menjadi guru, karena ada siswa yang harus aku berikan pengajaran dan pendidikan sebagai bekal dikemudian hari. 
Hal yang membuat saya terkesan dengan buku ini adalah penulis mengajak siswanya untuk membuat puisi matematika di kelas. Seperti apa yang pernah saya bayangkan namun belum pernah saya lakukan. Penulis memberikan tugas untuk membuat puisi matematika setelah akhir semester dengan maksud agar perbendaharaan istilah matematika siswa sudah banyak. Sesuatu yang menurut saya sangat keren. Berikut contoh puisi matematika karya dari muridnya yang ada di buku ini :

Penulis juga membagikan pengalaman-pengalaman mengajar dan mendidik dengan sangat baik di buku ini. Seperti halnya murid yang tidak mau bertanya karena tidak tahu apa yang harus ditanyakan, murid tidak tahu apa yang dia tidak tahu. Penulis mengajak agar para guru harus mulai mendorong murid untuk bertanya dan mempertanyakan, tidak soal apakah nanti guru bisa menjawab atau tidak. Yang terpenting adalah bagaimana murid memiliki keberanian untuk bertanya dan bisa merumuskan pertanyaannya dengan benar. Sebab inilah pintu pertama yang harus dibuka untuk menumbuhkan sikap kritis pada siswa. Guru tidak perlu malu untuk mengatakan tidak tahu, kalau memang benar-benar tidak tahu. 
Berdasarkan pengalaman penulis buku ini, seringkali siswa lebih memilih diterangkan saja daripada mereka harus membaca sendiri, menemukan sendiri untuk kemudian mendiskusikannya. Hal demikian tidak terlepas dari kebiasaan proses pembelajaran selama bertahun-tahun, dimana siswa dicekoki. Kebiasaan ini telah mengkondisikan siswa untuk bersikap pasif dan cenderung menunggu saja. Mereka terbiasa melakukan sesuatu bukan atas dasar inisiatif sendiri. Setelah saya pahami, pengalaman penulis benar adanya, dan harus menjadikan tugas bagi guru, termasuk saya agar lebih kreatif lagi dalam mengajar dan mendidik siswa.
Menurut saya, buku ini layak dibaca oleh para guru. Agar menambah wawasan dan pengetahuan dalam dunia pendidikan. Selain itu, buku ini juga akan menyadarkan kita sebagai guru bahwa profesi yang sudah dijalani ini memiliki objek anak manusia yang masih akan terus tumbuh dan berkembang. Tugas gurulah yang harus memberikan semangat kepada para siswa agar selalu belajar sepanjang masa. Selalu mengajarkan siswa agar menjadi pribadi yang baik dan berkarakter. Di dalam buku ini pun ada tulisan, persis seperti yang pernah disampaikan oleh dosen saya, Prof. Dr. Hardi Suyitno, M.Pd. seorang guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES), yaitu knowledge is power, but character is more.        

Filosofi Naik Gunung


Sebagai pendaki amatir, saya selalu merasa puas dan bahagia ketika sudah naik dan turun gunung. Ada semacam rasa nyaman yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Semacam rasa yang memang harus mengalaminya sendiri. Saya bukanlah pendaki gunung profesional yang memiliki peralatan lengkap dan sudah mendaki puluhan atau bahkan ratusan gunung. Saya hanyalah penikmat puncak gunung, dimana saya bisa mengambil berbagai pelajaran saat akan naik, saat naik, setelah di puncak, dan setelah turun.
Pengalaman saya tentang naik gunung sebenarnya sudah lama ingin saya tuliskan di blog, tetapi baru kali ini ada kesempatan untuk menulis filosofi naik gunung. Dulu kegiatan ini tidak terlalu banyak orang yang suka atau mencoba suka. Tetapi seiring waktu berjalan, kegiatan muncak gunung banyak digandrungi oleh anak muda. Tak terkecuali saya yang masih muda juga. Hehe. Sebelum menjalaninya, pasti orang akan terbayang susahnya dan beratnya. Apalagi jika membayangkan medan terjal dan berjalan menanjak. Sebagian orang pasti berpikir, ah itu hanya kurang kerjaan dan tidak ada manfaatnya. Tapi bagi saya, naik gunung memiliki manfaat untuk jiwa dan juga bagi tubuh.
Manfaat naik gunung bagi sebagian orang mungkin akan berbeda-beda. Orang naik gunung pasti mempunyai motivasi yang berbeda pula, sehingga manfaat atau nilai-nilai yang terkandung berbeda pula. Bagi saya, naik gunung selalu memiliki keasyikan jasmani dan rohani tersendiri. Saya yang sedikit suka tentang filosofi akan sesuatu hal, membuat beberapa daftar nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan muncak gunung. Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari kegiatan naik gunung. 


Berjuang
Hidup ternyata memang harus berjuang. Saat kita masih berada di bawah, semangat akan tinggi untuk naik gunung dan menaklukkannya. Tapi apa daya, setelah sampai di tengah-tengah yang sering saya rasakan adalah mulailah timbul rasa akan putus asa. Rasa ketika tidak sampai-sampai puncak tapi tubuh sudah lelah. Ingin kembali turun karena kaki sudah tidak mampu untuk melangkah karena terasa capeknya. Akan tetapi, rasa lelah itu akan sirna jika kita mengingat kembali bahwa hidup yang penting berjuang. Semangat berjuang itulah yang membuat saya akhirnya bisa sampai ke puncak gunung yang dituju.

Saat Melangkah Selalu Lihat ke Bawah
Hal yang sepele bagi sebagian orang, tapi bagi saya tidak. Saat saya berjalan untuk naik ataupun turun gunung pasti saya melihat ke bawah. Saya pun saat berjalan tidak pernah melihat ke atas. Resiko yang ditimbulkan bisa fatal. Terpeleset, terjatuh, terperosok ke lubang jika melihat ke atas. Bahkan, sudah melihat ke bawah pun saya masih terpeleset. Hal ini saya jadikan pengingat bahwa dalam hidup ini kita tidak boleh merasa sombong dengan selalu melihat ke atas. Orang harus selalu ingat untuk melihat ke bawah juga, agar rasa sombong tidak menghinggapi diri dan tidak sering terjatuh.

Istirahat itu Perlu
Apakah kita dapat melakukan suatu pekerjaan selama 24 jam nonstop? Saya yakin jawabannya tidak. Manusia tidak mungkin dapat melakukan pekerjaan tanpa berhenti selama 24 jam. Manusia pasti butuh istirahat. Saat naik gunung pun saya tidak pernah tidak berhenti untuk istirahat. Pasti istirahat akan saya lakukan, apalagi sekarang.  Saya mungkin pendaki yang paling sering istirahat. Seperti saat mendaki Gunung Sindoro pada tanggal 10-11 Juli 2017 kemarin saya paling sering meminta break untuk istirahat. Fisik manusia ternyata berbeda-beda. Hidup pun demikian adanya, bekerja, belajar, dan bermain harus tetap ingat untuk istirahat.

Menjaga Kebersihan
Saat naik gunung pasti kita akan membawa makanan dan minuman. Bungkus mie instans, snack, botol minuman, atau plastik-plastik pasti akan kita bawa saat muncak gunung. Kepedulian kita terhadap sampah akan teruji di sini. Kalau kita mendaki gunung hanya bertujuan untuk pamer foto, selfie, wefie maka kita pasti akan melupakan sampah yang kita bawa. Karena banyak pendaki yang tidak mau membawa sampahnya untuk turun. Apalagi sampah plastik yang tidak bisa terurai. Sampah yang kita bawa naik harusnya kita bawa turun juga. Maka membawa turun sampah sendiri saat di gunung akan menjadikan kita untuk senantiasa menjaga kebersihan. Kalau bukan diri sendiri yang memulai untuk menjaga kebersihan lalu siapa lagi.


Hidup tidak Selamanya Berada di Atas
Hal yang selalu saya ceritakan kepada orang jika membicarakan tentang naik gunung. Filosofi ini yang selalu saya ingat-ingat. Bahwa ketika kita sudah berjuang untuk mendaki gunung dengan keringat yang bercucuran, capek yang tak tertahankan, kantuk yang melanda, lalu kita mencapai puncak dan menikmati keindahan yang diberikan Allah kepada kita, ternyata kita masih punya PR untuk turun. Tidak mungkin kita akan menghabiskan hidup di puncak gunung. Karena kita punya kehidupan. Inilah yang selalu saya ingat bahwa dalam hidup di dunia ini, kehidupan, karier, penghasilan, prestasi, akan berada dipuncak. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan selamanya, karena apa yang kita punyai akan turun juga atau hilang. Usia pun seperti itu, kita akan mencapai usia emas dan produktif, tetapi lambat laun usia kita pun akan menua dan semakin ingat bahwa hidup di dunia tidak selamanya.

Toleransi
Pada dasarnya manusia memiliki sifat egois. Saya pun memilikinya. Tapi tergantung dari kita mengatur kadarnya, apakah keegoisan kita besarkan atau kecilkan. Naik gunung pun harus memiliki rasa toleransi yang tinggi. Suatu sikap yang saya mulai tahu saat sekolah. Guru PPKn selalu mengajarkan untuk toleransi, tetapi saya dulu tidak tahu dan tidak peduli apa itu toleransi. Namun, saat naik gunung saya jadi tahu apa itu toleransi. Saat kita memiliki semangat dan fisik yang bagus untuk sampai ke puncak, kita harus ingat bahwa saat naik bersama tim berarti tidak sendirian dan harus menyatu. Saat ada teman yang terluka karena kram atau keseleo, dan butuh istirahat, sebagai tim kita pasti harus ikut istirahat pula. Saat teman kita capek dan ingin istirahat, kita pun harus istirahat juga. Tidak mungkin kita meninggalkan teman kita sendirian, lalu kita melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak. Sikap toleransi inilah yang tanpa disadari muncul di saat kita bersama-sama naik gunung. Saya pun jadi ingat bahwa hidup memang bukan tentang diri sendiri.

Rasa Syukur yang Semakin Tinggi
Bersyukur itu memang perlu dan mutlak bagi umat manusia. Karena kita diciptakan oleh Allah, pastilah kita harus mensyukurinya. Tak terkecuali saat naik gunung. Hal yang mungkin akan selalu dirasakan oleh para pendaki ketika berada di puncak. Rasa lelah yang terasa saat perjalanan naik, terbayar lunas dengan keindahan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Keindahan alam yang begitu bagusnya. Samudera awan yang membuat mata tak jemu untuk memandangnya. Sunrise yang begitu indah. Semilir angin dan hawa dingin yang menemani saat menikmati ciptaanNya. Ah, rasa syukur ini memang harus selalu ada setiap saat.


Ternyata Manusia Itu Kecil Sekali
Saat berada di puncak ketika menikmati gugusan awan yang bederet-deret, ada pula yang berkumpul menjadi satu. Lalu menikmati pemandangan gunung yang lain. Menikmatinya, memandangnya, saya mulai berpikir bahwa manusia itu kecil sekali dan tidak ada apa-apanya. Itu pun saat berada di puncak gunung. Ketika membayangkan bumi dan seisinya, lalu membayangkan bulan, matahari, dan alam semesta, manusia memang benar-benar kecil, dan kecil sekali.

Jangan Mudah Menyerah
Kemarin, saat naik ke Gunung Sindoro ketika mencapai pos II badan saya terasa tidak sanggup dan terasa berat. Apalagi dengan membawa tas yang berisi banyak sekali barang dan minuman yang masih utuh. Saat berjalan rasanya sudah mau menyerah saja. Padahal itu belum ada setengah perjalanan. Rasanya ingin mendirikan tenda saja dan tidur. Tapi salah satu teman menyarankan agar bergantian tas dengan siswa saya. Alhasil dengan beban yang tidak terlalu berat akhirnya saya semangat kembali dan melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Jangan mudah menyerah untuk naik gunung, demikian halnya dengan kehidupan di dunia ini. Ketika kita menyerah, berarti kita kalah. Tidak tahu nanti kita jadi apa, memiliki apa, yang terpenting jangan mudah menyerah jika menerima masalah atau beban hidup. Hadapi saja.

Saat Jatuh, Bangunlah Lagi dan Lanjutkan Perjalanan     
Jatuh, dan terpeleset saat naik gunung mungkin puluhan kali terjadi. Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa saya bukanlah pendaki profesional. Kadang kaki rasanya berat untuk melangkah ketika terjatuh. Berkali-kali pasti saya terjatuh, terpeleset, dan lain sebaginya. Apalagi jika sudah kehilangan konsentrasi dan lelah. Jika saat terjatuh saya berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan maka tujuan yang saya inginkan tidak akan tercapai untuk sampai atas ataupun turun. Saya sering jatuh dan terpeleset saat turun, mungkin yang paling sering. Hehe. Tapi jika saya tidak melanjutkan perjalanan maka saya tidak akan bisa menuliskan tentang filososi naik gunung ini. Ternyata hidup pun seperti itu. Adakalanya kita jatuh, bahkan terpental, berguling-guling tak karuan kadang babak belur juga. Pasti kita akan berpikir untuk melanjutkan atau berhenti saja. Suatu hal yang pasti, bahwa hidup ini terus berjalan, jika kita pernah terjatuh itu hal yang wajar. Yang terpenting bangun lagi dan melanjutkan perjalanan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Hidup Harus Punya Tujuan
Saat berangkat untuk naik ke gunung, saya selalu ingat 2 hal. Yang pertama, saat akan naik tujuannya adalah puncak. Yang kedua, saat akan turun tujuannya adalah pulang ke rumah. Meskipun perjalanan naik gunung tidak semudah yang dibayangkan. Saya mengaitkannya dengan kehidupan. Saat sekolah, atau kuliah dulu mungkin saya termasuk tipe orang yang hanya mengikuti alur saja. Hidup ya yang penting jalani saja apa adanya, bahkan tanpa cita-cita. Tetapi ternyata setelah memiliki keluarga, istri dan anak mulai sadar dan berpikir bahwa hidup harus punya tujuan. Hidup tidak sekedar hanya makan, bekerja, dan tidur. Banyak hal yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan. Kadang mudah dan kadang susah. Tujuan manusia pastilah berbeda-beda, yang selalu saya ingat, hidup memang harus punya tujuan. 


Beberapa hal di atas merupakan nilai-nilai yang terkandung saat naik gunung yang saya kaitkan dengan kehidupan. Akan berbeda antara saya dengan orang lain. Bahwa nilai-nilai hidup bisa kita dapatkan dari hobi yang kita lakukan. Tidak harus naik gunung untuk mendapatkan nilai-nilai filosofis tentang hidup. Semua orang pasti memiliki nilai-nilai kehidupan yang ditemuinya dari manapun dan dari apapun. Tergantung dari kita mau atau tidak untuk sekedar merenung sejenak, memikirkan nilai-nilai kehidupan.

Lain-lain

Artikel Selanjutnya »

Kisahku

Artikel Selanjutnya »